Ketika lelaki tua itu mulai muncul dengan suara cempreng khasnya. Sebenarnya segenap penduduk gang yang berjubel itu menyambut dengan gembira. Kemunculan lelaki ramah yang mengaku berasal dari kampung itu seakan menjadi solusi bagi problem pelik yang dihadapi oleh para penduduk: sampah!
Tanpa disadari, setiap hari satu rumah membuang limbah paling sedikit satu keranjang sampah. Padahal jumlah rumah di gang itu benar-benar telah melampaui batas yang wajar. Yang disebut rumah di gang itu sebagian besar hanyalah petak sempit berukuran 4 x 3 meter persegi, masing-masing dihuni kira-kira 4 hingga 5 jiwa. Bahkan rumah-rumah seperti milik Pak Derma atau Aa Karta, jubelan penghuninya berkisar mencapai satu lusin. Tak terbayangkan, para manusia saling bertumpuk seperti ikan asin di keranjangnya.
Maka produksi sampah pun menjadi tak terkontrol. Setiap hari, sampah bertumpuk di sebuah bak ukuran dua kali tiga meter yang dibangun secara swadaya. Tiap sore, sampah itu dibakar oleh warga yang dijadwal bergiliran. Namun karena out of control itulah, lama-lama pembakaran itu tidak lagi menjadi hal yang efektif. Sampah pun menggunung, kian hari kian menebarkan bau busuknya.
Oleh karenanya, kemunculan lelaki ramah dengan gerobak sampahnya itu benar-benar disambut gembira.
“Sampaaah! Sampaaah!” begitu teriaknya.
Aq sering merasa heran, karena baru menjumpai tukang sampah yang setiap kali meneriakkan berita kedatangannya.
“Seperti pedagang keliling saja,” ujar Teman ku.
Sebenarnya aku pun belum pernah menjumpai tukang sampah seperti itu, tetapi aku tidak perlu menganggap hal tersebut sebagai hal yang aneh.
“Mungkin dia sengaja mengabarkan kedatangannya, agar orang yang belum sempat buang sampah menjadi tahu, dan segera mengambil sampah-sampahnya dari rumah untuk ia angkut dengan gerobaknya itu,” dugaku. Tampaknya dugaanku itu memang benar. Lelaki ramah itu sengaja memberi kesempatan kepada para warga untuk mengambil sampah-sampah yang belum tersedia di depan rumah. Alhasil, setiap hari, begitu keluar dari gang itu, gerobak lelaki ramah yang semula kosong begitu masuk ke mulut gang, akan penuh berjubel begitu keluar dari gang tersebut.
Untuk pekerjaannya itu, aku melihat pendar kebahagiaan tersendiri memancar di wajah lelaki ramah itu.
“Saya menganggap pekerjaan saya ini adalah pekerjaan yang sangat mulia, Nak!” jawab lelaki itu ketika kutanya akan semangatnya yang membuatku iri.
Lantas aku pun membisikkan sesuatu kepada teman ku. Lelaki itu PAHLAWAN, Dik…. dia tak menjawab, sehingga aku tak tahu pasti, apakah ia setuju atau tidak dengan pernyataanku.
Juli 4, 2008 at 9:33 am
aduh,pahlawan yg 1 ini gak bisa kta abaikan!!
Juli 4, 2008 at 9:56 am
yup.. seseatu yang tak kasat mata, tapi tidak nampak walau di depan mata…
Anyway salam kenal yoo
Juli 4, 2008 at 10:40 am
pemandangan yang seperti itu sudah tentu kita sering melihatnya. saya juga pernah melihat kenyataan seperti itu. 5 detik aq melihatnya mengumpulkan sampah dan membawanya, hatiku begitu tidak tega akannya….sungguh berat sebetulnya akan pekerjaan itu, tapi dianggapnya sebagai pekerjaan yang mulia. sungguh mulia hatinya……..menurutku, mereka-mereka wajar kita beri sebutan “pahlawan”….
Juli 4, 2008 at 1:22 pm
ada undangan yang aku sebarkan , silahkan mampir di tulisan terbaru
makasih
Juli 4, 2008 at 1:44 pm
kasian pahlawan itu yak….
padahal kan pahlawan nggak pernah dilupakan..
Juli 4, 2008 at 11:32 pm
yup….aQ setuju beliau disebut pahlawan…tp anak2 yg ber-profesi sejenis di daerah rumahQ g sebaik n seramah bapak2 ini, soalnya anak2 itu suka ‘ngambil’ yg g perlu dimasukin ke gerobaknya juga..
pdhl msh anak2…
Juli 5, 2008 at 10:22 am
yup juga..*ikut2 sarahtidaksendiri*
satu lagi, yang namanya PRT juga pantas dibilang pahlawan (selama dia bekerja dengan benar)
Juli 5, 2008 at 11:12 am
Ya, bagus untuk recycling.
Biar bumi gak betumpuk ma sampah yang nondegradable ya.
Juli 5, 2008 at 12:36 pm
yah kasian… kadang gaji gak sebanding dengan kerjanya.
Juli 5, 2008 at 3:00 pm
salam kenal mas
teman saya kerjanya bersihin sampah di pasar dan trotowar dia dari thn 2003-2007 mengabdi sebagai pekerja honorer, alham dulilah dia sekarang mnjadi PNS
Juli 5, 2008 at 3:57 pm
pahlawan tuh, bukannya orang yang “gugur” pas menjalankan tugasnya ya? *rada bolot* hihihi
Juli 5, 2008 at 10:22 pm
Kita bisa mempermudah tugas beliau dengan memisahkan sampah organik dan non-organik yang kita buang.
Juli 5, 2008 at 10:59 pm
Wah… andaikan masyarakatnya juga sadar sampah pasti lebih baik lagi, sayang sekali si pak sampah ini sudah berteriak2 “mengumumkan” kedatangannya tapi warga tetap cuek aja….. apalagi kalau masih buang sampah sembarangan…..
Benar2 tukang sampah teladan dan juga ‘inovatif’……
Juli 6, 2008 at 6:11 am
harusnya ada semacam apresiasi dari pemda setempat buat seperti itu ya om… ya… diangkat jadi petugas tetap gitulah…
Juli 6, 2008 at 6:31 am
banyak pahlawan tanpa tanda jasa yah
Juli 6, 2008 at 10:17 am
bener² pahlawan yang terlupan
Juli 6, 2008 at 10:58 am
@ bibataraja : setuju aza degh broo
@ anakmedan : tampak oleh mata tapi tertutup oleh hati ya
@ parlin : pahlawan dalam arti yang sebenar-benarnya
@ reallylife : oke insya Allah hadir broo
@ okta sihotang : pahlawan bagi diri kita sendiri za dulu
@ sarahtidaksendiri : sering kecolongan ya sarah? mungkin mereka hanya terdesak kebutuhan ekonomi
@ yusdi : setuju banget broo
@ suhadinet : bener banget,,,keep our earth green
@ fisha17 : ada solusi buat ini??
@ yakhanu : buah dari kesabaran ya,,,
@ ichanx : waduh pahlawankan gak harus yang udah meninggal
@ kishandono : right, mulai dari diri sendiri ya broo
@ yari nk : tugas yang dikerjakan dari dalam hati pak,,,hahahahaha
@ masenchipz : pengennya sich seperti itu
@ masmoemet :banyak sekali
@zoel chaniago : setidaknya kita yang tau bahwa dia pahlawan lingkungan kita
Juli 6, 2008 at 1:59 pm
Berarti tukang sampah perlu disejahterakan ya?
Juli 6, 2008 at 8:58 pm
makanya klo bayar iuran sampah jangan sambil ngedumel atw malah ngumpet pas ditagih
heheheh engga banget lah yaaaa
Juli 7, 2008 at 1:46 am
kita jangen pernah meremehkan profesi apapun yang di geluti orang…
Juli 7, 2008 at 1:49 am
iyah setuju…
pahlawan… MERDEKA!!!
Juli 7, 2008 at 12:37 pm
jgn pernah memandang dgn sebelah mata.
salamku
Juli 7, 2008 at 1:10 pm
hmmm….
ya… kalau yang begitu sih iyah… tapi apa kabar kalau yang profesinya sama dan suka lewat depan rumah saya tapi kadang pot tanaman yang sama sekali bukan sampah diangkut juga…
sigh…
Juli 7, 2008 at 1:33 pm
@ Edi Psw : ya begitu;ah kira2 hehehe
@ ven : bener banget,,,
@ ai : setuju, yang penting niatnyakan?
@ unga : merdeka!!!
@ salam balik ya mas
@ natazya : waduh no comment degh mbak
Juli 7, 2008 at 3:36 pm
http://asber.notlong.com
Sebuah program, ditujukan bagi siapa saja yang saat ini membutuhkan dana untuk keperluan yang positif seperti :
* Bayar hutang (credit card, personal loan, hutang pada saudara atau hutang pada rentenir)
* Investasi membuka/mengembangkan usaha
* Biaya sekolah atau kuliah (Beasiswa), dalam dan luar negeri
* Kegiatan sosial, termasuk LSM
* dan sebagainya.
Dalam program ini tersedia dana dengan jumlah tak terbatas yang berasal dari ribuan sumber sehingga memungkinan bagi siapa saja untuk mendaftar dan berpeluang mendapatkan dana hibah, tanpa perlu mengembalikan, dan tanpa syarat apapun !!!.
Klik http://asber.notlong.com
Juli 8, 2008 at 1:23 am
Tak terbayangkan jika di negeri ini tak ada orang yang berminat jadi tukan sampah/pemulung? seperti apa ya?,… bersyukur ada mereka
Juli 8, 2008 at 12:47 pm
tukang sampah juga manusia, terkadang kita memandang orang dari penampilannya, hingga kita sering lupa kenyataan bahwa semua orang adalah sama
Juli 9, 2008 at 5:07 am
@ adi : ow, ditunggu info selanjutnya ya
@ avartara : mungkin bumi kita ini sudah jadi gunng sampah ya
@ golekinten : setuju,bener banget